Pengendalian Sianobakteri (Alga Biru-Hijau)
Pengendalian sianobakteri menangani alga biru-hijau (seperti Microcystis, Anabaena, dan Oscillatoria) yang mendominasi kolam eutrofik, membentuk lapisan buih di permukaan, dan menciptakan tiga masalah utama: penurunan oksigen saat mereka mati, pelepasan racun (mikrosistin) yang membahayakan ikan, udang, dan konsumen manusia, serta senyawa penyebab bau tanah (geosmin, MIB) yang mencemari hasil panen. Pengendalian dimulai dengan pencegahan: sianobakteri tumbuh subur pada fosfor tinggi, pH tinggi (di atas 8,5), dan rasio nitrogen terhadap fosfor yang rendah, sehingga pemupukan yang seimbang, asupan N yang memadai, dan pH yang stabil lebih mendukung alga hijau dan diatom yang menguntungkan. Setelah terbentuk, tindakan fisik dan biologis diutamakan: ekstrak jerami barley, agen pengikat fosfor, serta meningkatkan populasi pemangsa dan alga pesaing; tembaga sulfat pada dosis 0,2-0,5 mg/L Cu adalah pengobatan kimia klasik, namun harus diberikan dengan hati-hati karena bersifat toksik bagi ikan pada kadar yang lebih tinggi, tidak efektif pada alkalinitas tinggi, dan mematikan ledakan alga yang padat sekaligus dapat memicu penurunan oksigen. Praktik terbaik adalah mengobati sebagian kolam, dengan aerator tetap menyala, dan membuang buih secara mekanis. Di tambak udang, probiotik dan pergantian air secara teratur menekan dominasi sianobakteri. Hasil dari pengendalian yang baik dapat diukur: lebih sedikit keadaan darurat oksigen saat fajar, risiko hepatotoksin yang lebih rendah, dan ikan yang bebas dari bau tanah yang menurunkan harga jual.